Full Style

y

Sidebar Style

Articles by "Zakat"

Ads Below Title

Ads Inside Post

Ads End Post

Tampilkan postingan dengan label Zakat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Zakat. Tampilkan semua postingan

Kisah Uwais Al Qarni dan Baktinya pada Orang Tua



Kisah Uwais bin ‘Amir Al Qarni ini patut diambil faedah dan pelajaran. Terutama ia punya amalan mulia bakti pada orang tua sehingga banyak orang yang meminta doa kebaikan melalui perantaranya. Apalagi yang menyuruh orang-orang meminta doa ampunan darinya adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sudah disampaikan oleh beliau jauh-jauh hari.
Kisahnya adalah berawal dari pertemuaannya dengan ‘Umar bin Al Khattab radhiyallahu ‘anhu.

عَنْ أُسَيْرِ بْنِ جَابِرٍ قَالَ كَانَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ إِذَا أَتَى عَلَيْهِ أَمْدَادُ أَهْلِ الْيَمَنِ سَأَلَهُمْ أَفِيكُمْ أُوَيْسُ بْنُ عَامِرٍ حَتَّى أَتَى عَلَى أُوَيْسٍ فَقَالَ أَنْتَ أُوَيْسُ بْنُ عَامِرٍ قَالَ نَعَمْ . قَالَ مِنْ مُرَادٍ ثُمَّ مِنْ قَرَنٍ قَالَ نَعَمْ.
قَالَ فَكَانَ بِكَ بَرَصٌ فَبَرَأْتَ مِنْهُ إِلاَّ مَوْضِعَ دِرْهَمٍ قَالَ نَعَمْ. قَالَ لَكَ وَالِدَةٌ قَالَ نَعَمْ
Dari Usair bin Jabir, ia berkata, ‘Umar bin Al Khattab ketika didatangi oleh serombongan pasukan dari Yaman, ia bertanya, “Apakah di tengah-tengah kalian ada yang bernama Uwais bin ‘Amir?” Sampai ‘Umar mendatangi ‘Uwais dan bertanya, “Benar engkau adalah Uwais bin ‘Amir?” Uwais menjawab, “Iya, benar.” Umar bertanya lagi, “Benar engkau dari Murod, dari Qarn?” Uwais menjawab, “Iya.”
Umar bertanya lagi, “Benar engkau dahulu memiliki penyakit kulit lantas sembuh kecuali sebesar satu dirham.”
Uwais menjawab, “Iya.”
Umar bertanya lagi, “Benar engkau punya seorang ibu?”
Uwais menjawab, “Iya.”

قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « يَأْتِى عَلَيْكُمْ أُوَيْسُ بْنُ عَامِرٍ مَعَ أَمْدَادِ أَهْلِ الْيَمَنِ مِنْ مُرَادٍ ثُمَّ مِنْ قَرَنٍ كَانَ بِهِ بَرَصٌ فَبَرَأَ مِنْهُ إِلاَّ مَوْضِعَ دِرْهَمٍ لَهُ وَالِدَةٌ هُوَ بِهَا بَرٌّ لَوْ أَقْسَمَ عَلَى اللَّهِ لأَبَرَّهُ فَإِنِ اسْتَطَعْتَ أَنْ يَسْتَغْفِرَ لَكَ فَافْعَلْ ». فَاسْتَغْفِرْ لِى. فَاسْتَغْفَرَ لَهُ. فَقَالَ لَهُ عُمَرُ أَيْنَ تُرِيدُ قَالَ الْكُوفَةَ. قَالَ أَلاَ أَكْتُبُ لَكَ إِلَى عَامِلِهَا قَالَ أَكُونُ فِى غَبْرَاءِ النَّاسِ أَحَبُّ إِلَىَّ

Umar berkata, “Aku sendiri pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Nanti akan datang seseorang bernama Uwais bin ‘Amir bersama serombongan pasukan dari Yaman. Ia berasal dari Murad kemudian dari Qarn. Ia memiliki penyakit kulit kemudian sembuh darinya kecuali bagian satu dirham. Ia punya seorang ibu dan sangat berbakti padanya. Seandainya ia mau bersumpah pada Allah, maka akan diperkenankan yang ia pinta. Jika engkau mampu agar ia meminta pada Allah supaya engkau diampuni, mintalah padanya.”
Umar pun berkata, “Mintalah pada Allah untuk mengampuniku.” Kemudian Uwais mendoakan Umar dengan meminta ampunan pada Allah.
Umar pun bertanya pada Uwais, “Engkau hendak ke mana?” Uwais menjawab, “Ke Kufah”.
Umar pun mengatakan pada Uwais, “Bagaimana jika aku menulis surat kepada penanggung jawab di negeri Kufah supaya membantumu?”
Uwais menjawab, “Aku lebih suka menjadi orang yang lemah (miskin).”

قَالَ فَلَمَّا كَانَ مِنَ الْعَامِ الْمُقْبِلِ حَجَّ رَجُلٌ مِنْ أَشْرَافِهِمْ فَوَافَقَ عُمَرَ فَسَأَلَهُ عَنْ أُوَيْسٍ قَالَ تَرَكْتُهُ رَثَّ الْبَيْتِ قَلِيلَ الْمَتَاعِ. قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « يَأْتِى عَلَيْكُمْ أُوَيْسُ بْنُ عَامِرٍ مَعَ أَمْدَادِ أَهْلِ الْيَمَنِ مِنْ مُرَادٍ ثُمَّ مِنْ قَرَنٍ كَانَ بِهِ بَرَصٌ فَبَرَأَ مِنْهُ إِلاَّ مَوْضِعَ دِرْهَمٍ لَهُ وَالِدَةٌ هُوَ بِهَا بَرٌّ لَوْ أَقْسَمَ عَلَى اللَّهِ لأَبَرَّهُ فَإِنِ اسْتَطَعْتَ أَنْ يَسْتَغْفِرَ لَكَ فَافْعَلْ ».

Tahun berikutnya, ada seseorang dari kalangan terhormat dari mereka pergi berhaji dan ia bertemu ‘Umar. Umar pun bertanya tentang Uwais. Orang yang terhormat tersebut menjawab, “Aku tinggalkan Uwais dalam keadaan rumahnya miskin dan barang-barangnya sedikit.” Umar pun mengatakan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Nanti akan datang seseorang bernama Uwais bin ‘Amir bersama serombongan pasukan dari Yaman. Ia berasal dari Murad kemudian dari Qarn. Ia memiliki penyakit kulit kemudian sembuh darinya kecuali bagian satu dirham. Ia punya seorang ibu dan sangat berbakti padanya. Seandainya ia mau bersumpah pada Allah, maka akan diperkenankan yang ia pinta. Jika engkau mampu agar ia meminta pada Allah supaya engkau diampuni, mintalah padanya.

فَأَتَى أُوَيْسًا فَقَالَ اسْتَغْفِرْ لِى. قَالَ أَنْتَ أَحْدَثُ عَهْدًا بِسَفَرٍ صَالِحٍ فَاسْتَغْفِرْ لِى. قَالَ اسْتَغْفِرْ لِى. قَالَ لَقِيتَ عُمَرَ قَالَ نَعَمْ. فَاسْتَغْفَرَ لَهُ

Orang yang terhormat itu pun mendatangi Uwais, ia pun meminta pada Uwais, “Mintalah ampunan pada Allah untukku.”
Uwais menjawab, “Bukankah engkau baru saja pulang dari safar yang baik (yaitu haji), mintalah ampunan pada Allah untukku.”
Orang itu mengatakan pada Uwais, “Bukankah engkau telah bertemu ‘Umar.”
Uwais menjawab, “Iya benar.” Uwais pun memintakan ampunan pada Allah untuknya.

فَفَطِنَ لَهُ النَّاسُ فَانْطَلَقَ عَلَى وَجْهِهِ

“Orang lain pun tahu akan keistimewaan Uwais. Lantaran itu, ia mengasingkan diri menjauh dari manusia.” (HR. Muslim no. 2542)


Faedah dari kisah Uwais Al Qarni di atas:

1- Kisah Uwais menunjukkan mu’jizat yang benar-benar nampak dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dia adalah Uwais bin ‘Amir. Dia berasal dari Qabilah Murad, lalu dari Qarn. Qarn sendiri adalah bagian dari Murad.
2- Kita dapat ambil pelajaran –kata Imam Nawawi- bahwa Uwais adalah orang yang menyembunyikan keadaan dirinya. Rahasia yang ia miliki cukup dirinya dan Allah yang mengetahuinya. Tidak ada sesuatu yang nampak pada orang-orang tentang dia. Itulah yang biasa ditunjukkan orang-orang bijak dan wali Allah yang mulia.
Maksud di atas ditunjukkan dalam riwayat lain,

أَنَّ أَهْلَ الْكُوفَةِ وَفَدُوا إِلَى عُمَرَ وَفِيهِمْ رَجُلٌ مِمَّنْ كَانَ يَسْخَرُ بِأُوَيْسٍ

“Penduduk Kufah ada yang menemui ‘Umar. Ketika itu ada seseorang yang meremehkan atau merendahkan Uwais.”
Dari sini berarti kemuliaan Uwais banyak tidak diketahui oleh orang lain sehingga mereka sering merendahkannya.
3- Keistimewaan atau manaqib dari Uwais nampak dari perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada Umar untuk meminta do’a dari Uwais, supaya ia berdo’a pada Allah untuk memberikan ampunan padanya.
4- Dianjurkan untuk meminta do’a dan do’a ampunan lewat perantaraan orang shalih.
5- Boleh orang yang lebih mulia kedudukannya meminta doa pada orang yang kedudukannya lebih rendah darinya. Di sini, Umar adalah seorang sahabat tentu lebih mulia, diperintahkan untuk meminta do’a pada Uwais –seorang tabi’in- yang kedudukannya lebih rendah.
6- Uwais adalah tabi’in yang paling utama berdasarkan nash dalam riwayat lainnya, dari ‘Umar bin Al Khattab, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ خَيْرَ التَّابِعِينَ رَجُلٌ يُقَالُ لَهُ أُوَيْسٌ وَلَهُ وَالِدَةٌ وَكَانَ بِهِ بَيَاضٌ فَمُرُوهُ فَلْيَسْتَغْفِرْ لَكُمْ

Sesungguhnya tabi’in yang terbaik adalah seorang pria yang bernama . Uwais. Ia memiliki seorang ibu dan dulunya berpenyakit kulit (tubuhnya ada putih-putih). Perintahkanlah padanya untuk meminta ampun untuk kalian.” (HR. Muslim no. 2542). Ini secara tegas menunjukkan bahwa Uwais adalah tabi’in yang terbaik.
Ada juga yang menyatakan seperti Imam Ahmad dan ulama lainnya bahwa yang terbaik dari kalangan tabi’in adalah Sa’id bin Al Musayyib. Yang dimaksud adalah baik dalam hal keunggulannya dalam ilmu syari’at seperti keunggulannya dalam tafsir, hadits, fikih, dan bukan maksudnya terbaik di sisi Allah seperti pada Uwais. Penyebutan ini pun termasuk mukjizat dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
7- Menjadi orang yang tidak terkenal atau tidak ternama itu lebih utama. Lihatlah Uwais, ia sampai mengatakan pada ‘Umar,

أَكُونُ فِى غَبْرَاءِ النَّاسِ أَحَبُّ إِلَىَّ

“Aku menjadi orang-orang lemah, itu lebih aku sukai.” Maksud perkataan ini adalah Uwais lebih senang menjadi orang-orang lemah, menjadi fakir miskian, keadaan yang tidak tenar itu lebih ia sukai. Jadi Uwais lebih suka hidup biasa-biasa saja (tidak tenar) dan ia berusaha untuk menyembunyikan keadaan dirinya. Demikian dijelaskan oleh Imam Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim.
8- Hadits ini juga menunjukkan keutamaan birrul walidain, yaitu berbakti pada orang tua terutama ibu. Berbakti pada orang tua termasuk bentuk qurobat (ibadah) yang utama.
9- Keadaan Uwais yang lebih senang tidak tenar menunjukkan akan keutamaan hidup terasing dari orang-orang.
10- Pelajaran sifat tawadhu’ yang dicontohkan oleh Umar bin Khattab.
11- Doa orang selepas bepergian dari safar yang baik seperti haji adalah doa yang mustajab. Sekaligus menunjukkan keutamaan safar yang shalih (safar ibadah).
12- Penilaian manusia biasa dari kehidupan dunia yang nampak. Sehingga mudah merendahkan orang lain. Sedangkan penilaian Allah adalah dari keadaan iman dan takwa dalam hati.
Semoga bermanfaat.

Referensi:

Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, Yahya bin Syarf An Nawawi, terbitan Dar Ibnu Hazm, cetakan pertama, tahun 1433 H.
Bahjatun Nazhirin Syarh Riyadhis Sholihin, Syaikh Abu Usamah Salim bin ‘Ied Al Hilaliy, terbitan Dar Ibnul Jauzi, cetakan pertama, tahun 1430 H.

Sumber : Rumasyo.com

Sanggupkah Kau Wahai Pria


Seorang pria beristeri tanpa sengaja berkenalan dengan seorang gadis di sebuah kantin kompleks perkantoran, karena ada urusan pekerjaan merekapun tukeran PIN
BB.

Malam harinya si gadis mulai BBM
si pria :

Gadis : Mas hebat ya. Punya usaha sendiri, sukses pula

Pria : Terima kasih ya :)

Esoknya si gadis menelpon sekedar say hallo.

Gadis : Kapan ya mas, kita makan bareng lagi?

Pria : Oke kapan aja boleh Setelah itu mereka masih sering berhubungan melalui BBM dan
telepon, sesekali juga janjian pergi makan siang bareng.

Hari-hari berlalu, tiada hari tanpa kontak antara mereka. Sampai suatu hari, si gadis BBM, isinya adalah :

“Mas… Sebenarnya aku mencintaimu , aku tau kamu udah punya keluarga, tapi aku mau menerima kondisi sebagai isteri ke-2, aku siap mas dan maaf aku mengganggu perasaanmu.

Dengan berat hati pria itu menjawab
: “Dik, aku mengerti dan paham maksudmu… tapi dengan berat hati aku harus jawab :

TIDAAAAK...!!!

Aku tau kamu memang cantik, dan aku yakin semua lelaki pasti mengatakan tubuh dan parasmu elok dan cantik.
Tapi, tahukah kamu kenapa aku bisa tampil baik dan hingga usahaku sukses? Itu semua karena dorongan dan semangat isteriku.

Sungguh sangat berdosa kalau aku harus berselingkuh dengan seseorang yang hanya mengagumiku, karena tau kalau aku sekarang udah sukses.

Kamu menyukai aku tidak ikhlas, kamu hanya melihat tampilanku
semata. Padahal ada seseorang yang tersayang di rumah yang telah bersusah payah mendorong aku agar selalu tampil sebaik mungkin, dia
adalah isteriku tercinta.

Kalau kamu menyukai aku, artinya kamu tinggal memetik hasilnya, dan cara ini tidak pernah abadi.
Taukah kamu bahwa aku memulai ini dari nol dan isteriku
yang selalu mendampingiku di kala susah, terpuruk dan sukses seperti ini.
Taukah kamu bahwa isteriku yang selalu mendoakan kesuksesanku hingga aku bisa menjadi seperti ini.

Kamu memang cantik, tapi hati isteriku lebih cantik.

Terima kasih atas cintanya, maaf aku tidak bisa membalas seperti kehendakmu.

Wahai pria, sanggupkah kau seperti kisah di atas. ...??

Sumber : zeropromosi.com

Dipublikasikan ulang Oleh:
Ihyaa-ul 'Uluum
WApGrup Kajian Ilmu
Join Grup Japri : 08562256222
Didokumentasikan di :
risalahpersatuan.blogspot.co.id

Tiga Sandaran Cinta Yang Saling Menguatkan


Tidak ada sandaran yang lebih hangat dan menenangkan bagi seorang anak ketika mengalami ketakutan, melakukan kesalahan, mencari perlindungan, mengharapkan nasehat dan pelukan penguat, daripada dekapan sang ibu.

lihatlah anak kita- wajah kecil belia-ketika bangun dan membuka mata sembari mengerjapkannya berkali-kali, mencari dimanakah sosok sandaran cintanya yang terbiasa mengulur tangan untuk mendekap manja. itulah sang ibunda tercinta.

Tidak ada sandaran yang lebih kokoh dan menentramkan bagi seorang istri ketika mengalami kelelahan, merasakan ketidakmampuan, berusaha memperbaiki kesalahan, butuh penguat dan pendukung kecuali senyuman dan pelukan penuh kasih sayang dari sang suami.

::before Lorem Ipsum has been the industry's standard dummy text ever since the 1500s, when an unknown printer took a galley of type and scrambled it to make a type specimen book. ::after


maka akan lumrah kita temui, dalam lelah dan salah, wajah-wajah teduh yang terikat dalam akad itu akan mendatangi suami-suaminya, berkisah, berbagi gundah, mengharap dekap serta seka pada air mata.

lalu siapakah yang menjadi sandaran yang kokoh bagi kita para suami?

ketika tantangan terasa berat, dinding masalah seolah meninggi,  gagal kerap mengikut dalam ikhtiar, kesulitan mengikat harap, adakah sandaran yang lebih menyemangati daripada wajah anak-anak kita yang menyambut kedatangan sang ayah ketika kembali kerumah dengan kondisi ceria?

ceria anak kita berasal dari ceria  ibunya, kebahagiaan istri kita berasal dari perlindungan dan ketenangan kita, dan semangat kita menumbuh dari kebahagiaan yang diperoleh oleh anak kita.

inilah tiga sandaran cinta yang saling menguatkan. ini siklus cinta yang hidup, bermula dari anak, berlanjut pada ibu, berkesudahan pada ayah, dan akhirnya kembali kepada sang anak juga.

dalam sandaran tiga cinta inilah, kita akan mengenal makna dari sabda Rasulullah: "Rumahku syurgaku".(RI)

Mereka yang di sana Menunggu do'a dari anaknya


Amalan anak pasti akan mengalir kepada orang tuanya..

Terlebih untuk ayah atau ibu yang telah berpulang ke Rahmatullah..

Sebagai seorang anak setidaknya kita lakukan amalan-amalan yang dicintai Allah untuk memeberikan setitik cahaya, demi menerangi jalan mereka di alam kuburnya..

Jangan sampai kita melakukan hal-hal yang dimurkai Allah, sehingga membuat mereka merasakan pedihnya sisa kubur..

Bayangkan ketika lampu di kamar kita padam..
Sungguh gelap, bahkan tidak ada jalan yang terlihat kecuali ada setitik cahaya yang membantu menerangi..
.
Sama halnya dialam kubur..
Gelap, bahkan tak ada satupun yang bisa terlihat.
Maka jangan ditambah lagi derita sebab tingkah laku kita didunia..

Nauzubillah Sum'ma Nauzubillah..

Yuk!! Sama-sama kita do'akan mereka..
Bila raganya tidak dapat lagi kita peluk, maka do'a adalah cara terbaik untuk memeluknya..

رَبِّ اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا

ROBBI GHFIRLII WA LIWAALIDAYYA WA RHAMHUMAA KAMAA ROBBAYAANI SHOGHIIROO

“Tuhanku! ampunilah Aku, ibu bapakku. (QS. Nuh : 28) Dan rahmatilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil". (QS. Al Isra : 24)

Percayalah..
Do'a anak pasti akan tersampaikan kepada orang tuanya.
Seperti anak panah yang melesat cepat diudara..(Rama Uzma)

Zakir Naik Naik Darah


Beberapa pihak yang bertanya dalam acara Zakir Naik di Indonesia mengaku bahwa mereka datang dari keluarga Muslim dan sekarang menjadi atheis. Melihat kenyataan ini Zakir Naik akhirnya tidak mampu lagi menahan amarahnya dan 'memuntahkannya' pada sesi ceramah di Makassar ketika menjawab pertanyaan dari seorang atheis yang mendewa-dewakan ilmu politik melebihi ajaran Islam, sekalipun berasal dari keluarga Muslim.

Zakir Naik menjadi naik darah..

Tenyata banyak keluarga Indonesia yang tidak peduli dalam menjaga keimanan keluarga mereka berdasarkan sikap yang selama ini sering dibangga-banggakan beberapa orang sebagai simbol kemajuan berpikir : bertoleransi. Zakir Naik tidak habis pikir, ketika orangtua melihat anaknya terlibat narkoba mereka mampu untuk bersikap khawatir dan berusaha menyelamatkan anak-anak mereka, disaat anaknya mau terjun dari bangunan tinggi karena ingin meniru Superman, mereka panik dan pasti akan mencegahnya. Namun ketika si anak terpengaruh dengan ajaran kekafiran dan atheisme, mereka sanggup untuk membiarkannya atas nama toleransi dan kebebasan berkeyakinan, padahal kerusakan yang ditimbulkan dari murtadnya seorang anak manusia jauh lebih berat dibandingkan dari kerusakan karena narkoba.

Ini mungkin merupakan kesalahan mendasar dalam keluarga kita, saat ini seorang anak bisa lebih fasih berbicara  tentang humanisme, demokrasi, toleransi, kesetaraan gender dan hak azazi manusia dibandingkan soal keimanan kepada Allah, karena mereka sejak kecil memang dicekoki keinginan duniawi dan dibekali kemampuan hidup seirama dengan perkembangan peradaban yang mungkin sudah salah arah. Tidak aneh kalau seorang ayah sering mengatakan harapannya agar si anak sukses jadi orang berpangkat, punya duit banyak, dihormati masyarakat, namun pembicaraan dimeja makan jauh dari soal menghadirkan Allah ditengah-tengah mereka. Padahal berpedoman dari perjalanan sejarah Rasulullah, justru dimasa awal kenabian beliau di Makkah, aspek keimanan inilah yang ditanamkan terlebih dahulu sebelum berbicara soal politik, sosial dan ekonomi.

Menanamkan kehadiran Allah tidak harus memaksa si anak belajar mengaji, menguasai Al-Qur'an dan bahasa Arab, hapal ayat-ayat, dll, Tentu saja ini penting, tapi ketika misalnya orangtua berbincang-bincang santai, mereka selalu mengkaitkan setiap kejadian yang diterima keluarga, baik berupa anugerah maupun musibah, merupakan hal yang tidak bisa dilepaskan dari kekuasaan Allah beserta segala sifat-Nya. Disaat menyuap nasi dan menerima gaji, sekali-sekali seharusnya ayah berkata :"Ini rejeki dari Allah, tanpa kemurahan-Nya kita tidak bisa makan sekalipun berusaha sehebat apapun..", atau sebaliknya ketika menghadapi musibah orangtua mengingatkan anaknya ;"Allah pasti punya maksud baik mengapa Dia mendatangkan musibah ini buat kita, sesungguhnya Allah tidak akan menganiaya hamba-Nya yang beriman..". Untuk semua ini, tidak diperlukan kemampuan tinggi dari orangtua dalam ilmu agama, harus masuk pesantren, belajar nahwu syarof, menguasai kitab kuning, dll.

Saya sendiri berpikir, apakah selama ini saya sudah mendidik anak-anak untuk selalu ingat dan menghadirkan Allah dalam setiap langkah mereka dan hanya bisa mendoakan semoga mereka selamat dalam menjalani kehidupan, karena mereka sudah besar dan akan memilih sendiri kehidupan model apa yang akan dijalani. Juga sekaligus mengingatkan kepada sahabat-sahabat yang sudah terperangkap dalam sikap bertoleransi dan lebih memasukkan tujuan-tujuan duniawi kepada anak-anak :"Apakah anda tidak bisa melihat bahaya besar yang akan terjadi terhadap anak keturunan..?".

Percayalah, ini bukan persoalan sepele.. (Arda Chandra)

Beda Wanita Muda Dengan Wanita Tua


Sang ibu yang sudah bertubuh agak gemuk, dengan langkah tertatih-tatih dibantu berjalan oleh kedua anaknya, yang satu gadis manis berwajah lembut, dan yang satu lagi seorang pria berusia sekitar 25 tahun.

Dalam hati, Anis membatin, “ibu yang berbahagia, memiliki anak-anak yang mencintai dirinya.” Dan Anis menoleh sekali lagi kedalam lift, dan subhanallah, ibu tersebut mengenakan cadar, sementara anak gadisnya dengan wajah yang sangat menawan, alis mata yang disapu tajam naik keatas, dan bulu mata yang lentik menawan memandang kearah luar dengan wajah yang bila di foto, maka nilainya delapan, masya Allah.

Kok aneh ya, ibu yang sudah tua malah pakai cadar, dan yang anak gadis muda malah buka cadar. Bukan hanya buka cadar, baju yang digunakannyapun walau tidak terbuka seperti yang selama ini banyak dilihat Anis di mal-mal dan pusat pertokoan, namun menggambarkan keindahan dan kemudaan sang gadis. Anis berjalan dan tidak memikirkannya lagi.

Sampai suatu hari, Anis mengikuti pengajian yang diselenggarakan di sebuah masjid daerah Pondok Gede, betapa banyak sekali wanita yang mengikuti pengajian ditempat ini. Dan diantara ibu-ibu yang rutin mengikuti pengajian, Anis mengenali seorang ibu yang rajin dan sibuk menjadi ketua panitia pengajian dan sang ibupun, sangat aktif mengajak ibu-ibu yang lain untuk segera berwudhu dan merapatkan shaf; “agar setan tidak ikut sholat ibu-ibu, mari rapatkan shaf-nya, ujung kaki bertemu ujung kaki, bahu bersentuhan dengan bahu, ayo jangan malas, ibu-ibu yang dicintai Allah, ikuti sunnah Rasul.”

Demikian ibu yang Anis kenali sebagai ketua pengajian di masjid itu sangat menggebu dalam memotivasi para ibu untuk melakukan sholat dan beribadah dengan cara yang mengikuti sunnah Rasul. Hatipun menjadi senang, dan Anis merasa ingin lebih lama lagi ada dalam lingkungan yang islami ini, subhanallah.

Pagi yang cerah, Anis ingat ingin membeli kancing baju ditanah abang, setelah semua pekerjaan rumah selesai, dan setelah menitipkan anak-anak pada adik iparnya yang kebetulan main kerumah, Anis melenggang pergi ke tanah abang. Waktu pulang pergi dan belanja hanya satu setengah jam, karena adik ipar Anis ingin berangkat sekolah, jadi Anis hanya membeli apa yang diperlukan dengan secepat kilat, dan upps… hampir saja Anis terjatuh, kalau tidak ditolong seorang anak remaja lelaki dengan memakai celana pendek dan baju kaus hitam yang dengan sigap membantu Anis memunguti semua barang belanjaan Anis.

Dengan tergopoh ucapkan terimakasih maka Anis mencoba untuk bangkit, namun sungguh kakinya jadi sakit, Karena tak sengaja jatuhnya membuat Anis mengalami keseleo yang cukup lumayan, dan masya Allah. Pertolongan dari seorang ibu yang kemudian Anis kenali sebagai ibu ketua pengajian di masjid daerah Pondok Gede itu, membuat Anis mendoakan sang ibu berkali-kali, dan mengucapkan terimakasih, karena ternyata sang ibu, juga punya toko busana muslim di tanah abang, dan Anis dipersilakan untuk duduk sebentar dalam toko ibu tersebut.

Tak lama Anis merasa nyaman, dan Anis pun bangun, dan betapa terkejutnya Anis melihat dua orang gadis yang cantik dan muda usianya membantu di toko tersebut yang kemudian diperkenalkan oleh sang ibu sebagai anak remajanya, dan sang gadis mengenakan busana sangat ketat dan terbuka, kontras sekali dengan penampilan ibunya yang mengenakan busana sangat islami, selain pemandangan yang kontras tersebut ada di toko busana muslimah.

Setelah berbasa basi sejenak, Anispun memohon diri pulang, dalam hati membatin, subhanallah, mengapa sang ibu tidak menyuruh anaknya mengenakan busana muslim, toh mereka bersentuhan, memegang dan melihat busana muslimah setiap hari. Mengapa wanita tua lebih baik agamanya dan cenderung menutupi dirinya sementara yang muda malah membuka diri dan pakaiannya, justru bukankah fitnah pada wanita muda lebih besar daripada fitnah dari wanita tua.

Anispun menggeleng kuat-kuat tidak mau bergibah walau dengan hatinya sendiri, Namun sekali lagi Anis berfikir, dua orang ibu, yang menggunakan cadar dan berpakaian muslimah, rata rata memiliki anak anak gadis yang sangat cantik dan elok rupawan, namun membiarkan anak gadisnya membuka dirinya, sedangkan sang ibu asyik beribadah dan berdakwah serta melaksanakan perintah agama, namun sangat lalai untuk ingatkan anaknya. Apakah ibu-ibu itu tidak ingin bersama anak gadisnya di surga?

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu: penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang di perintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang di perintahkan.” (QS. At-Tahriim [66] : 6 )

Ayat ini mungkin bukan hanya untuk para ayah saja, namun juga bagi para ibu, ajaklah anak-anak gadis Anda menggunakan pakaian muslimah seperti anda, bila Anda gemar menutup aurat bahkan menggunakan cadar sekali, mengapa Anda biarkan anak gadis Anda terbuka pada siapa saja, sayangkah Anda padanya? Bila ya, selamatkanlah mereka dari api neraka, Anda ibunya, ditangan Andalah Surganya… (eramuslim)

Panglima TNI: Kalau tak Waspada Kita Bisa Diusir dari Negara Ini



Panglima TNI Gatot Nurmantyo mengatakan penyebab konflik dan perang kini bergeser bukan lagi akibat perbedaan agama, suku dan bahasa, melainkan untuk memperebutkan energi sebuah negara oleh negara lain.

"Semua konflik melanda negara-negara penghasil minyak, yang terakhir terjadi di Suriah dan Ukraina. Sekarang, 70 persen konflik karena energi, dan nanti akan berubah ke tujuannya merebut pangan dan air yang konfliknya bergeser ke negara ekuator," katanya saat memberikan kuliah umum di Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim II, Kota Pekanbaru, Rabu.

Menurut dia, negara-negara ekuator yang menjadi ancaman konflik berlokasi di Asia Tenggara, Afrika Tengah dan Amerika Latin. Indonesia tidak luput menjadi sasaran karena kekayaan alam dan jumlah populasi penduduknya.

"Kalau tidak waspada, kita bisa diusir dari negeri ini. Seperti Indian di Amerika dan Aborigin di Australia," kata Panglima TNI.

Panglima TNI mengingatkan, ancaman tersebut bisa dikalahkan selama rakyat dan generasi muda Indonesia berpegang teguh pada Pancasila untuk menjaga kebhinekaan NKRI.

Tokoh pendiri Indonesia menempatkan lima sila Pancasila yang mengandung makna mendalam tentang ketuhanan, kemanusiaan yang adil dan beradab, dan demokrasi Pancasila yang menjunjung tinggi musyawarah untuk mencapai keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

"Republik Indonesia bukan milik satu golongan, adat, dan agama. Islam adalah satu napas dengan ke-Indonesiaan dan kemanusiaan, tanpa membedakan suku," kata Panglima TNI.

Sumber: republika.co.id

Karena Aku seorang Muslimah

Photo hanya ilustrasi muslimah kecil

Wafa adalah keponakan saya yang berumur 7 tahun. Saat ini, dia masih bersekolah di Albany Rise Primary School, Melbourne dan sudah menginjak tahun kedua. Seperti anak-anak lain seusianya, hari-hari Wafa juga masih didominasi oleh sifat kekanak-kanakannya, sering ngambek, nggak mau makan, atau kalau nggak, ya bertengkar dengan Hafidz sang adik. Namun, dibalik itu semua, ada yang istimewa pada diri gadis kecil ini, dia adalah satu-satunya murid di sekolahnya yang menggunakan jilbab, padahal Wafa bersekolah di public school bukan di sekolah islam.

Gadis kecil itu tidak pernah mau melepas tutup kepalanya, walaupun  sekarang sudah tidak lagi tinggal dan bersekolah di Indonesia. Saya tidak pernah melihat ayah ibunya memaksanya untuk menggunakan jilbab,  tetapi faktanya meski berada di lingkungan asing seperti ini –dengan risiko akan “diasingkan” oleh teman-temannya- dia tidak terlalu peduli dan sangat kokoh dengan pendiriannya.

Paling tidak, ada dua kejadian yang mengesankan saya tentang kegigihannya dalam berjilbab. Pada suatu hari, di saat Australia sedang dilanda heatwafe –suhunya mencapai 40 derajat celcius- guru Wafa (didasari rasa kasihan) meminta Wafa untuk membuka jilbabnya agar tidak terlalu kepanasan. Namun dengan tenang Wafa menjawab sambil menatap sang guru, “It’s okay Miss… I’m alright”. Sang guru sampai menyampaikan kekagumannya atas kegigihan anak gadis kecil itu.

Di kesempatan lain, hal itu terjadi lagi, Wafa ditanya oleh beberapa temannya,“Why do you wear that thing on your head?”Dengan tenang Wafa menjawab, “Because I’m Muslim.” Temannya yang masih penasaran bertanya lagi, “But what you’re wearing that for?”  Dengan tenang dia menjawab, “Well, because I’m Muslim girl, and all Muslim girls are not allowed to show their hair to other people, besides their own family.”  Bisa dibayangkan betapa takjubnya teman-temannya mendengar jawaban itu.

Saya tidak tahu darimana Wafa mendapat keberanian untuk melakukan hal itu. Biasanya anak-anak seusianya sangat  takut dianggap berbeda dari teman-temannya, tapi tidak untuk Wafa. Dia sangat percaya diri dengan keislamannya, bahkan disini, di tempat yang cukup asing dengan dirinya. Kegigihan Wafa itu rupanya juga diperhatikan oleh guru-gurunya. Dia terpilih sebagai “Student of the week”  di minggu pertama dia masuk sekolah disini.

So.. for all Muslim girls di mana saja berada, jilbab di atas kepala kalian adalah bukan sebuah tempurung  yang membatasi dirimu. Bukan juga sebuah topeng yang engkau bisa menyembunyikan diri, apalagi sebuah tirai yang menutupi potensi dan kemampuan diri. Namun, seperti yang Wafa contohkan, ia adalah sebuah mahkota yang bukan saja meningkatkan derajatmu diantara kerumunan orang lain, tetapi juga memancarkan cahaya yang membuat potensi dan kemampuan dirimu semakin jelas terlihat.

So… for all Muslim girls wherever you are, lift up your chins, face the world upon you and show them what you are really made of. Cheers..!!

By: Ari Pramono on Thursday, February 18th, 2010 (Muniefah)

Erdogan: Hai Asad Sang Pembunuh, Kenapa Kamu Berlepas Tangan?

Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan

Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan mengutuk keras serangan kimia yang dilancarkan rezim Suriah di Khan Syaikhun, Idlib pada Selasa (4 April 2017) lalu.

“Hai Asad sang pembunuh, kenapa kamu berlepas tangan dari jeritan (para korban) itu?” kata Erdogan dalam sebuah siaran pers, pada Kamis (6 April 2017).

Dalam siaran pers tersebut, Erdogan juga mengatakan,

“Sungguh, di tangan mereka (rezim Asad) ini, 100 warga sipil meninggal dunia karena senjata kimia (gas sarin), 50 orang di antaranya adalah anak-anak. Hai Asad sang pembunuh, kenapa kamu berlepas tangan dari jeritan (para korban) itu?”

Dalam kesempatan itu, Erdogan menekankan, bahwa Turki akan melakukan segala hal yang dapat menyelamatkan korban luka akibat dari serangan kimia tersebut.

Ia juga mengatakan, meskipun sudah maksimal, namun hal tersebut masih belum cukup. Sehingga, keterbatasn tersebut membuatnya sedih.

Presiden Turki juga mengkritik sikap PBB yang diam terkait penggunaan senjata kimia di Idlib.

“Wahai kalian yang diam terhadap serangan kimia (di Idlib), bagaimana kalian menjustifikasikan sikap kalian ini?” ujarnya.

Menurut sebuah laporan, jumlah korban akibat gas Sarin di wilayah Khan Syaikhun, Idlib, Suriah terus bertambah. Sejauh ini tercatat ada 100 orang yang meninggal dunia, termasuk 30 orang anak-anak dan 18 orang wanita.

Seperti halnya serangan terhadap warga sipil yang dilakukan rezim Suriah di bawah pimpinan Basyar Asad, yang tidak berperikemanusiaan, serangan di kota Idlib juga menyasar fasilitas umum seperti rumah sakit dan masjid.

Sebuah masjid bernama Masjid Ar-Raudhah yang berada di kota Salqin yang berada di sebelah barat Idlib juga diserang oleh pasukan Asad.

Situs Shaam melaporkan, korban yang meninggal dunia di kota tersebut berjumlah 30 orang, termasuk di antaranya 17 orang anak-anak 7 orang wanita. Satuan Pertahanan Sipil Suriah yang berada di barisan para pejuang berhasil mengangkat jasad korban yang terperangkap di bawah reruntuhan gedung selama lebih dari 24 jam.

Menurut saksi mata, pesawat tempur rezim kembali memborbardir kota Khan Syaikhun pada pagi hari Kamis (6 April 2017) kemarin, ketika warga berkumpul untuk menguburkan keluarga mereka yang baru saja diserahkan oleh pihak rumah sakit kepada mereka.

Melihat hal ini, tentu siapa pun yang mempunyai hati nurani tidak akan pernah mendiamkan kejahatan rezim tiran Suriah tersebut. (ABD)

MUI: Indonesia Mayoritas Muslim, Tapi TV Nasionalnya Takut Siarkan Ceramah Zakir Naik, Ada Apa?



Ceramah Zakir Naik yang tidak disiarkan televisi nasional di Indonesia memang mengundang tanda tanya.  Padahal, ustad yang punya jutaan penggemar di Indonesia ini bisa mendatangkan rating tinggi. Apakah televisi di negeri mayoritas Muslim ini takut dituduh teroris?

Ketua Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI) Cholil Nafis dalam perbincangan, Jumat (31/3/2017) sudah mewanti-wanti.

Cholil mengatakan ada hal yang harus diperhatikan mengingat Zakir Naik memiliki spesialisasi dalam perbandingan agama. Ia ingin, saat tur dakwah nanti, Zakir Naik tetap memperhatikan kekhasan Islam yang ada di Indonesia.


"Diharapkan ceramahnya juga nanti dalam membicarakan agama lain harus hati-hati. Agar orang awam perlu hati-hati agar tidak salah paham. Jangan sampai nanti malah menyebarkan pesan membenci atau menistakan agama lain," tuturnya seperti dikutip dari detik.com.

Faktanya dalam setiap ceramah, Zakir Naik mengemukakan logika sederhana yang bisa diterima siapa saja ditambah dengan dalil Alquran dan Alkitab. Bagian mana yang menyebarkan kebencian dan menista agama? Jikalau Zakir Naik memang seperti itu, mengapa banyak non muslim yang akhirnya masuk Islam setelah mendengarkannya?

Bahkan sebelumnya, tersiar kabar bahwa Zakir Naik ditolak di beberap negara, bahkan di Malaysia. Tapi ternyata, hanya segelintir orang di Malaysia yang menolaknya. Mirisnya, orang-orang tersebut mengatasnamakan toleransi beragama.

Jika kita melihat isi ceramah Zakir Naik dan menarik benang lurus dari perlakuan dunia terhadap Muslim, maka bisa dipastikan televisi nasional tidak menyiarkan Zakir Naik karena takut dianggap TERORIS, PENYEBAR KEBENCIAN dan PENISTA AGAMA.

Sedihnya, stereotip itu bahkan sudah tertanam disebagian pikiran Muslim di Indonesia (seperti yang terlihat dari salah satu penanya saat Zakir Naik ceramah di Bandung).

Beginilah nasib sang mayoritas yang mulai tertindas.


Sumber : Republik.in

Berlakubaiklah pada Orang yang Menyakitimu


Kalau ada yang menyakiti hati atau diri kita, menganiaya, dan atau berbuat jahat pada kita

Tolaklah perbuatan itu dengan sabar karena Alloh dan balaslah dengan kebaikan padanya.

Sungguh
tidak akan pernah sama kebaikan dengan kejahatan

Kebaikan membawamu pada rahmatNya dan rahmat Alloh akan membawamu ke Surga

Sedang kejahatan menggiringmu pada dosa dan dosa akan menggusurmu pada siksaanNya

Harus berSabar?

Betul, sabar adalah 5 huruf yang mudah di ucapkan tapi butuh perjuangan dan latihan untuk melaksanakannya

Dan hanya orang yang bisa bersabar yang bisa membalas kejahatan orang dengan kebaikan bahkan kebaikannya menghadapi orang yang menjahatinya seperti kebaikannya pada teman setianya..

وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ۚ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ

“Dan tidaklah sama perbuatan yang baik dan yang jahat. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka apabila di antara kamu dan dia ada permusuhan jadikan seolah-olah ia adalah teman setia”

وَمَا يُلَقَّاهَا إِلا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ

“Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar, dan tidak dianugerahkan kecuali kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar”

[Surat Fushilat (41):34-35]


Sungguh sabar tiada batasnya, Karena yang membatasi sabar adalah orang yang belum mampu bersabar

✍ Nurfalah Abi Hamza



Aku yang diusir dari Telaga Kautsar



Sesungguhnya setiap Nabi memiliki telaga (pada hari kiamat nanti),

Dan mereka saling membanggakan tentang siapa di antara mereka yang paling banyak orang mendatangi telaganya (dari umatnya),

Dan sungguh aku berharap (kepada Allah Ta’ala) bahwa akulah yang paling banyak orang yang mendatangi (telagaku). HR at-Tirmidzi (no. 2443) dan ath-Thabarani (no. 6881)

Aku akan mendahului kalian di al haudh (telaga) itu.

Dinampakkan di hadapanku beberapa orang di antara kalian.

Ketika aku akan mengambilkan (minuman) untuk mereka dari al haudh,

mereka dijauhkan dariku. Aku lantas berkata,
"Wahai Rabbku, ini adalah umatku, mereka betul-betul pengikutku"

Lalu Allah s.w.t. berfirman,
"Engkau sebenarnya tidak mengetahui bid’ah yang mereka buat sesudahmu, engkau tidak mengetahui bahwa mereka telah mengganti ajaranmu setelahmu.”

Kemudian aku (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) mengatakan,
“Celaka, celaka bagi orang yang telah mengganti ajaranku sesudahku.” (HR. Bukhari, no. 7049, no. 7051)


Siapa mereka yang diusir dan dijauhkan Alloh dari telaga Kautsar??

Merekalah aku..
Aku yang apabila:
Seorang MUNAFIK yang mengaku beriman padahal hatinya pembenci Islam dan rosululloh

Merekalah aku..
Aku yang apabila:
Seorang yang telah Islam kemudian Murtad

Merekalah Aku
Aku yang apabila:
Menerima Islam hanya dengan hawa nafsu.. memilih melaksanakan melaksanakan syariat yang sesuai keinginan diri dan menolak syariat yang bertentangan dengan kemauan hati, kebiasaan diri, keluarga dan masyarakat.

Merekalah aku
Aku yang apabila :
Merubah ajaran yang telah digariskan Alloh melalui alQuran dan NabiNya s.a.w dengan hadits-hadits shohih nya.

Merekalah aku
Aku yang apabila:
Mengusulkan bentuk ibadah baru dalam islam dengan alasan mengira ngira supaya lebih afdhol, supaya lebih khusyu supaya lebih banyak pahala padahal amat sangat bertentangan dengan ketetapan syariat Islam

"Celaka, celaka, bagi orang yang telah mengganti ajaranku sesudahku"

"Sungguh laksanakanlah ibadah yang hanya diperintah dan jangan sekali kali melaksanakan bentuk ibadah yang tidak diperintah agama"

✍Nurfalah Abi Hamza

Sebenarnya Apa yang kamu Sombongkan?



DILARANG SOMBONG

Lahir : ditolong oleh Orang lain

Nama : diberi oleh Orang lain

Pendidikan : didapat dari Orang lain

Gaji : diterima dari Orang lain

Kehormatan: diberikan oleh Orang lain

Mandi pertama: dilakukan oleh Orang lain.

Mandi terakhir : dilakukan oleh Orang lain

Harta setelah meninggal: menjadi hak Orang lain

Pemakaman : dilakukan oleh Orang lain

Ternyata sejak lahir hingga meninggal kita selalu memerlukan Orang Lain.

Kita mulai sedar bahawa hidup ini memerlukan orang lain :
DI MANAKAH KEHEBATAN KITA

Ternyata, kita bukanlah siapa-siapa tanpa ORANG LAIN.

Bersahabatlah dengan semua orang kerana kita tidak tahu bila kita memerlukan bantuan mereka.


Islam Akan Pergi Dari Indonesia



Saya Pernah Membaca dari Buku Sejarah yang Menjelaskan Bahwa, Islam Pernah Jaya di Andalusia (Spanyol). Karena Ummat Islam Tidak Menjaganya dengan Baik, Akhirnya Islam di Andalusia Hilang dan Andalusia Jatuh Ke Tangan Orang-Orang Nasrani.

Sejarah Juga Mencatat Bahwa, Islam Pun Pernah Jaya di Turki. Tapi Lagi-Lagi Islam Minggat Dari Turki, karna Bangsa Turki Tidak Pandai Mengurusnya.

Muslim Philipina Pernah 100%, Saat ini Hanya Tinggal 2% Saja.

Penduduk Muslim Singapora dalam Catatan Sejarah Mencapai 93%, Sekarang hanya Tinggal 15%.

Saya Merasa Khawatir, Penduduk Indonesia yang Pernah Mencapai 95%, 10 Atau 15 Tahun Lagi Entah Akan Tinggal Berapa Persen Lagi?

Akankah Islam Malah Akan Hilang Dari Indonesia?

Wahai Ummat Islam Indonesia. Bila NKRI ini yang Berpenduduk Muslim 95% Tidak Sanggup Kita Jaga, Islam Tidak Hanya Akan Hilang Dari Bumi Nusantara Ini, Tapi Malah Sejarah Kelam di Spanyol Bakal Terulang di Indonesia. Bila ini Terjadi, Sungguh sangat Pilu jika Anak-Anak Muslim Indonesia Suatu Saat akan Diberikan 3 (Tiga) Pilihan:
1. Masuk Nasrani
2. Dibunuh, Atau
3. Keluar dari Bumi Indonesia.

Ingat Wahai Saudara-Ku Muslim, "Islam Tidak Akan Pernah Musnah Dari Dunia, Tapi Islam Bisa Hilang Dari Bumi Indonesia". Lihatlah Keadaan Ummat Islam Saat ini, Rata2 Pelosok Daerah Orang-Orang Muslim Diadu Domba. Sesama Muslim Kita Saling Bermusuhan, Tapi dengan Non Muslim Kita Bela Habis-Habisan, dan Malah dengan Senang Hati Memasang Badan.

Di depan Mata Kita Hari ini, Fenomena ini Sedang Terjadi. Muslim satu Dengan Muslim Lainnya Sedang Saling Menyalahkan dan Saling Menyerang. Lihatlah Partai-Partai Yang di Dalamnya Mayoritas Muslim, Partai Muslim Pecah, Partai Muslim Kisruh, Partai Muslim Terbelah Dua. Organisasi Muslim Seperti NU, Adalah Oranganisasi yang Punya Catatan Bahwa Anggotanya Pernah Memerdeka-kan Indonesia. Tapi Saat ini Apa yang Terjadi? Satu-Satu Anggota NU "Diculik" agar Berseberangan Dengan Anggota NU Lainnya. Miris, Anggota NU yang Di "Culik" ini, Terang-Terangan Membela NON MUSLIM dan Menyalahkan Ulama Muslim yang Istiqamah dengan Keislaman-nya. Ada Apa Ini ?????

Jawabannya Adalah, Islam Sedang digerogoti dari Dalam, Islam sedang Dihancurkan Melalui Tangan-Tangan Muslim itu Sendiri. Saya Merasa Khawatir, Suatu Hari Nanti, Muslim Indonesia Mati Bukan Karena Nuklir Yahudi, Muslim Nusantara Bukan Mati Karena Senjata Orang Nasrani. Tapi Muslim Indonesia Akan Musnah Karena Pertikaian dan Perang Saudara.

Wahai Saudara-Ku Seiman :
Kita Sedang diadu Domba.
Remaja Kita Sedang Diracuni Narkoba.
Partai Muslim Sedang dibagi Dua.
Organisasi Muslim dibuat Haru Hara.

Buka Mata Bukalah Telinga.
Buka Mata Hati Wahai Bangsa.
Muslim Indonesia Terbesar di Dunia.
Hindari Pertengkaran antar Sesama.
Jaga NKRI Wahai Pemuda.
Jangan dijual untuk Bangsa China.
Kita Wariskan NKRI Untuk Cucu Kita.
Karena Indonesia Warisan Kakek Kita.

Sumber : siarannews.com

Ketika Sumpah Jabatan Diganti Pakai Kantong Kresek




Beberapa tahun lalu, saat kampanye Pilpres 2014, publik digegerkan dengan foto umrah Jokowi. Kala itu, geger pakaian umrahnya salah.

Tak lama, muncul counter opini yang mengkritisi pakaian umrah Jokowi. Aneka pembelaan muncul bak rudal yang ditembakan. Hal-hal terkait demikian sangat ramai memenuhi jagat media massa dan sosmed.

Jokowi salah wudhu, jadi imam shalat di luar Magrib dan Isya dengan lafadz yang dinyaringkan, serta peristiwa kegaduhan lain yang terkait proses ibadah Jokowi.

Pencitraan dengan cover ibadah pasti menjadi hal seksi. Jangankan begitu. Sekadar mengemas simbol agamis pasti laku. Dicaci atau dipuji, urusan nanti.

Hal penting mendapat perhatian publik.  Mendapat promosi gratis dari media massa. Baik atau buruk, nama yang akan dikemas telah terpatri dalam benak publik.

Inilah pola branding paling sederhana. Komunikasi politik yang menggelitik, namun hasilnya ciamik untuk masyarakat Indonesia. Terima atau tidak dengan dijualnya agama, itulah yang banyak dilakukan para pencari suara. Minimal para pencari perhatian.

Dan yang membuat branding menjadi murah: gunakan simbol agama. Sekelas James Riyadi saja pakai peci hitam. Itu digunakan ketika berkunjung ke kantor PBNU.

Begitu pula Harry Tanoe, yang mencari perhatian lewat kunjungan ke pesantren. Sekali lagi: baik atau buruk, caci atau puji, salah atau benar, semua itu urusan belakang.

Hal penting dapat perhatian. Branding gratis yang murah meriah. Kemaslah branding dengan bernuansa agamis. Dipastikan Anda akan memperoleh perhatian besar. Pujian manis atau caci maki bengis.

Kalau sudah dapat perhatian, tinggal create sesuai tujuan. Seperti create dengan survei atau blusukan memuakan.

Tak percaya? Siapa dulu yang kenal Jokowi, Ahok, Harry Tanoe? Sekarang nyaris sebagian besar masyarakat tahu. Dari kota ke desa, pedesaan ke pedalaman.

Sampai kini, cara jualan simbol agama itu masih dilakukan. Karena memang laris manis. Pemain religionomik tak butuh etika yang baik.

Jualan simbol agama itu, baru-baru ini dilakukan lagi. Seperti Setya Novanto yang menyebut Keislaman Ahok diridhai lantaran salaman dengan Raja Salman. Djarot pakai peci.

Terlalu banyak dan panjang jika disebutkan. Apalagi, nyaris di setiap ajang pilkada yang dimainkan bandar, menjual simbol-simbol agama.

Nah, celakanya ketika suara rakyat berhasil diembat. Ketika penjual janji tanpa bukti terpilih, agama dipinggirkan. Dilecehkan, bahkan diinjak dan mau dipisahkan.

Seperti kegaduhan yang dilontarkan Jokowi soal pemisahan politik dan agama. Bukan sekali ini saja wacana pemisahan politik dan agama. Tak laku, jual lagi. Coba lagi, lempar lagi. Gaduhkan lagi.

Padahal harga cabe yang tingginya amit-amit itu tak juga bisa dilepaskan dari kebijakan politik. Sedangkan tujuan politik menciptakan kesejahteraan merata, dan hanya nilai agama yang mampu memandunya. Mencipta politik beretika.

Tidak akan pernah bisa memisahkan politik dan agama. Bagaimana mungkin memisahkan politik dan agama, sedangkan sumpah jabatan pakai Kitab Suci.  Atau nanti kita revisi: sumpah jabatan dengan Kitab Suci ganti saja pakai kantong kresek. Duhai ini bukan negara komunis.

Lalu, apa kabar rekening 506 dan ketetapan 1997? Bagaimana pemeriksaan Austrac, Interpol dan proses audit finansial global terkait kejahatan finansial masa silam?

Segala kegaduhan yang diciptakan tetap tak mampu mengubur jejak kejahatan waktu lampau. Semoga kelak, Allah menyingkap tabir-tabir yang disembunyikan. Sebaik-baiak makar adalah makar Allah.

Sumber:
republika.co.id

Sahihkah Anjuran Puasa Tujuh Hari di Awal Rajab?


Seseorang boleh saja shaum di bulan Rajab sebagaimana shaum pada bulan lainnya, seperti melakukan shaum Senin-Kamis, shaum Ayyamul Bidh (13, 14, 15 Hijriyah), shaum Daud (sehari shaum, sehari tidak).

Namun bagaimana dengan motivasi shaum di bulan Rajab secara khusus? Adakah tuntunannya? Di antaranya, ada anjuran shaum tujuh hari di awal Rajab.

Hadits shaum Rajab

Ada beberapa hadits yang menganjurkan beberapa shaum di bulan Rajab, contohnya:

Pertama:

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إن في الجنة نهرا يقال له رجب أشد بياضا من اللبن و أحلى من العسل من صام من رجب يوما سقاه الله من ذلك النهر

“Sesungguhnya di surga ada sebuah sungai, namanya sungai Rajab. Airnya lebih putih dari pada salju, lebih manis dari pada madu. Siapa yang shaum sehari di bulan Rajab, maka Allah akan memberinya minum dengan air sungai tersebut.”
(HR. Al-Baihaqi dalam Syu’ab Al-Iman,  no. 3800, 3: 367. Ibnul Jauzi dalam Al-‘Ilal Al-Muntanahiyah, no. 912 menyatakan bahwa hadits ini tidak shahih, di dalamnya ada perawi majhul yang tidak jelas siapa mereka)

Kedua:

رجب شهر عظيم يضاعف الله فيه الحسنات فمن صام يوما من رجب فكأنما صام سنة ومن صام منه سبعة أيام غلقت عنه سبعة أبواب جهنم ومن صام منه ثمانية أيام فتح له ثمانية أبواب الجنة ومن صام منه عشر أيام لم يسأل الله إلا أعطاه ومن صام منه خمسة عشر يوما نادى مناد في السماء قد غفر لك ما مضى فاستأنف العمل ومن زاد زاده الله

“Bulan Rajab adalah bulan yang agung, Allah akan melipatkan kebaikan pada bulan itu. Barang siapa yang shaum satu hari pada bulan Rajab, maka seakan-akan ia shaum selama satu tahun. Barang siapa yang shaum tujuh hari pada bulan Rajab, maka akan ditutup tujuh pintu api neraka jahanam darinya. Barang siapa yang shaum delapan hari pada bulan itu, maka akan dibukakan delapan pintu surga baginya. Barang siapa yang shaum sepuluh hari dari bulan Rajab, maka tidaklah Allah dimintai apa pun kecuali Allah akan memberinya. Barang siapa shaum lima belas hari pada bulan Rajab, maka ada yang memanggil dari langit, ‘Engkau telah diampuni dosamu yang telah lampau.’ Mulailah amal, siapa yang terus menambah, maka akan terus diberi pahala.”
(HR. Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir 5538 dari jalur ‘Utsman Ibnu Mathor Asy-Syaibani, dari ‘Abdul Ghafur yaitu Ibnu Sa’id, dari ‘Abdul ‘Aziz bin Sa’id dari bapaknya. Hadits ini dikatakan oleh Syaikh Al-Albani sebagai hadits maudhu’ atau palsu karena adanya ‘Utsman bin Mathar. Ibnu Hibban menyatakan bahwa ia meriwayatkan hadits-hadits palsu. Syaikh Al-Albani memasukkan hadits ini dalam kumpulan hadits lemah, dalam Silsilah Al-Ahadits Adh-Dha’ifah, no. 5413, 11: 692)

Penilaian Ulama

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,
“Setiap hadits yang membicarakan shaum Rajab dan shalat pada sebagian malam (seperti shalat setelah Maghrib pada malam-malam pertama bulan Rajab, pen), itu berdasarkan hadits dusta.”
(Al-Manar Al-Munif, hlm. 49).

Ibnu Rajab rahimahullah berkata,
“Hadits yang menunjukkan keutamaan shaum Rajab secara khusus tidaklah shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya.”
(Latha’if Al- Ma’arif, hlm. 213)

Penulis Fiqh Sunnah, Syaikh Sayyid Sabiq rahimahullah berkata, “Adapun shaum Rajab, maka ia tidak memiliki keutamaan dari bulan haram yang lain. Tidak ada hadits shahih yang menyebutkan keutamaan shaum Rajab secara khusus. Jika pun ada, maka hadits tersebut tidak bisa dijadikan dalil pendukung.”
(Fiqh Sunnah, 1: 401).

Sebagaimana dinukil oleh Sayyid Sabiq dalam Fiqh Sunnah (1: 401), Ibnu Hajar Al-Asqalani berkata,
“Tidak ada dalil yang menunjukkan keutamaan shaum di bulan Rajab atau menjelaskan shaum tertentu di bulan tersebut. Begitu pula tidak ada dalil yang menganjurkan shalat malam secara khusus pada bulan Rajab. Artinya, tidak ada dalil shahih yang bisa jadi pendukung.”

Syaikh Shalih Al-Munajjid hafizhahullah berkata,
“Adapun mengkhususkan shaum pada bulan Rajab, maka tidak ada hadits shahih yang menunjukkan keutamaannya atau menunjukkan anjuran shaum saat bulan Rajab".

Yang dikerjakan oleh sebagian orang dengan mengkhususkan sebagian hari di bulan Rajab untuk shaum dengan keyakinan bahwa shaum saat itu memiliki keutamaan dari yang lainnya, maka tidak ada dalil yang mendukung hal tersebut.”
(Fatwa Al-Islam Sual wa Jawab no. 75394)

Kalau kita lihat hadits-hadits di atas dan masih banyak hadits lainnya, sungguh betapa besar keutamaan shaum pada bulan Rajab. Akan tetapi kalau kita lihat lebih teliti lagi, kita dapati hadits-hadits itu berkisar antara hadits lemah dan hadits palsu.

Silakan timbang-timbang, apa dengan menggunakan hadits lemah atau hadits palsu untuk kita beramal Ibadah?

Jika demikian, Kita mau bilang apa ketika nanti menghadap Rosululloh di telaga Kautsar sedangkan kita membawa hasil amal ibadah yang bukan disunnahkan oleh beliau Shollallohu 'alaihi wa sallam.

Semoga Allah memberi taufik dan hidayah untuk menerima amalan sesuai tuntunan. aamiin

Semangat Mencari Harta Tapi Malas Mencari Ilmu


Banyak diantara manusia yang peras keringat banting tulang dalam mengejar dunia serta mencari harta, akan tetapi mereka sangat malas dan tidak peduli dalam menuntut ilmu agama. Padahal ilmu lebih berharga daripada harta seandainya mereka mengetahui

Allah Ta’ala mencela karakter orang-orang kafir yang pandai dalam masalah dunia akan tetapi mereka bodoh dalam hal akhirat.

يَعْلَمُونَ ظَاهِراً مِّنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الْآخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ

“ Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai” (QS Ar-Ruum : 7)

Ali bin Abi Tholib radhiyallahu anhu berkata :

الْعِلْمُ خَيْرٌ مِنْ الْمَالِ. الْعِلْمُ يَحْرُسُك وَأَنْتَ تَحْرُسُ الْمَالِ. الْعِلْمُ حَاكِمٌ وَالْمَالُ مَحْكُومٌ عَلَيْهِ. مَاتَ خَزَّانُ الْأَمْوَالِ وَبَقِيَ خَزَّانُ الْعِلْمِ أَعْيَانُهُمْ مَفْقُودَةٌ، وَأَشْخَاصُهُمْ فِي الْقُلُوبِ مَوْجُودَةٌ

“Ilmu itu lebih baik daripada harta. Ilmu bisa menjagamu, sedangkan harta kamu yang menjaganya.
Ilmu sebagai hakim sementara harta objek yang dihukumi. Penumpuk harta mati, sedangkan penghimpun ilmu tetap abadi, karena walaupun jasad mereka telah tiada, akantetapi kepribadian mereka tetap hidup di hati” (Adabud Dunya Wad Diin Almawardi hal.48)

Menuntut ilmu lebih membutuhkan kerja keras dan kecerdasan sebagimana yang dinasehatkan oleh Yahya bin Katsir rahimahullah :

لَا يُنَالُ الْعِلْمُ بِرَاحَةِ الْبَدَنِ

“Ilmu tidak bisa diraih dengan badan yang santai” (Jami’u Bayanil ‘Ilmi : 554)

As-Sya’bi rahimahullah berkata :

لَوْ أَنَّ رَجُلًا سَافَرَ مِنْ أَقْصَى الشَّامِ إِلَى أَقْصَى الْيَمَنِ؛ لِيَسْمَعَ كَلِمَةَ حِكْمَةٍ مَا رَأَيْتُ سَفَرَهُ ضَاعَ

“Seandainya seseorang safar dari ujung negeri Syam sampai ujung negeri Yaman hanya untuk sekedar mendengar satu kalimat hikmah (ilmu) maka aku memandang hal itu bukanlah perkara sia-sia” (Jami’u Bayanil ‘Ilmi 1/94)

Kejar dan tuntutlah ilmu agama sebagaimana engkau semangat dalam mengejar harta, rakuslah terhadap ilmu karena tidak ada ambisi yang terpuji kecuali  dalam mencari ilmu.

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda :

لَنْ يَشْبَعَ الْمُؤْمِنُ مِنْ خَيْرٍ يَسْمَعُه حَتَّى يَكُونَ مُنْتَهَاهُ الْجَنَّةَ

“Seorang mu’min tidak akan pernah merasa puasa terhadap kebaikan (ilmu) yang ia dengar sehingga perjalanannya berakhir di surga” (HR Tirmidzi : 2686, Jami’u bayanil ‘ilmi : 612)

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata mengenai hadits di atas :

فَجعل النَّبِي النهمة فِي الْعلم وَعدم الشِّبَع مِنْهُ من لَوَازِم الايمان واوصاف الْمُؤمنِينَ وَاخْبَرْ ان هَذَا لَا يزَال دأب الْمُؤمن حَتَّى دُخُوله الْجنَّة

“Nabi shalallahu alaihi wasallam menjadikan sifat ambisi dan tidak pernah merasa puas (rakus) terhadap ilmu sebagai konsekwensi iman dan sifat orang beriman.
Dan Beliau memberitahukan bahwa sifat ini tetap menjadi karakter mu’min sampai ia masuk surga”
(Miftah Daaris Sa’adah 1/74)

Di dalam lafadz hadits yang lain disebutkan :

مَنْهُومَانِ لَا يَشْبَعَانِ طَالِبُهُمَا طَالِبُ عَلِمٍ، وَطَالِبُ الدُّنْيَا

“Dua orang yang ambisi (rakus) tidak merasa puas, penuntut ilmu dan pencari dunia”
(HR Thabrani , Al-kabir : 10388 , Al-Hakim Al-Mustadrak 1/92 : 312, dishahihlan oleh Ad-Dzahabi)

Wallahu a’lam.

Sumber : www.suara-islam.com

Comments system

[facebook][blogger]

Disqus Shortname

Spot.IM ID

Flickr User ID

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget

Google ads Main JS